Dermatitis numularis adalah penyakit kulit kronis yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak bulat mirip koin. Bercak ini biasanya terasa gatal, memiliki tekstur yang kasar, dan terkadang mengeluarkan cairan. Meski bisa membuat tidak nyaman, dermatitis numularis tidak menular.

Dermatitis numularis atau discoid eczema umumnya muncul setelah kulit mengalami kerusakan, misalnya akibat luka bakar, gesekan, atau gigitan serangga. Masalah kulit ini dapat berlangsung dalam hitungan minggu, bulan, atau bahkan tahun, dan bisa kambuh sewaktu-waktu.

Dermatitis numularis - alodokter

Dermatitis numularis dapat muncul di bagian tubuh mana saja, tetapi paling sering terjadi pada tungkai. Kondisi ini lebih banyak dialami oleh pria usia 55–65 tahun.

Penyebab Dermatitis Numularis

Penyebab pasti dermatitis numularis masih dalam tahap penelitian. Namun, sebagian besar kasus dermatitis numularis dikaitkan dengan kondisi kulit yang sangat kering (xerosis) dan sensitif terhadap zat tertentu, seperti:

  • Logam, termasuk nikel dan merkuri
  • Formaldehida atau formalin, yang biasa terdapat pada bahan bangunan, lem, pelapis, atau kain
  • Obat-obatan yang dioleskan ke kulit, misalnya antibiotik neomycin

Selain itu, beberapa faktor berikut juga dapat meningkatkan risiko kemungkinan seseorang mengalami dermatitis numularis:

  • Berjenis kelamin pria dan berusia di atas 50 tahun
  • Memiliki kulit sensitif yang mudah mengalami iritasi karena pemakaian produk kebersihan, kosmetik, atau pakaian berbahan kasar
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi, asma, atau dermatitis atopik
  • Mengalami gangguan peredaran darah, terutama pada tungkai, seperti varises
  • Menderita diabetes
  • Mengalami cedera pada kulit, misalnya gigitan serangga, luka bakar, atau goresan
  • Menggunakan obat tertentu, seperti isotretinoin, interferon, atau obat golongan statin
  • Bertempat tinggal di daerah beriklim kering atau dingin
  • Mengalami stres 
  • Terjadi perubahan temperatur atau suhu udara akibat panas matahari atau angin dingin

Gejala Dermatitis Numularis

Gejala utama dermatitis numularis adalah bercak menonjol berbentuk bulat mirip koin, dengan permukaan kasar berwarna kemerahan atau kecokelatan. Pada beberapa kondisi, bagian tengah bercak tampak lebih bersih sehingga membuatnya mirip dengan kurap.

Permulaan keluhan dermatitis numularis bisa berupa bintik-bintik kecil kemerahan yang kemudian bergabung menjadi bercak besar. Bercak ini dapat membengkak, melepuh, atau mengeluarkan cairan. 

Rasa gatal biasanya sangat mengganggu, terutama pada malam hari. Pada sebagian besar kasus, muncul lebih dari satu bercak di tubuh, dengan lokasi tersering di tungkai, dan jarang di wajah atau kulit kepala.

Jika dermatitis numularis tidak ditangani, bisa terjadi infeksi bakteri, yang ditandai dengan:

  • Bercak berubah warna menjadi kekuningan
  • Keluarnya cairan berlebih dari bercak
  • Kulit di sekitar bercak tampak meradang, membengkak, serta terasa panas dan nyeri
  • Demam atau meriang

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala dermatitis numularis seperti yang disebutkan di atas. Penanganan dan pemeriksaan sejak dini penting untuk mencegah komplikasi. 

Untuk mendapatkan penanganan awal, Anda bisa berkonsultasi lewat Chat Bersama Dokter. Melalui chat, dokter dapat memberikan saran atau pengobatan, maupun merekomendasikan untuk membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit.

Bagi Anda yang bekerja di tempat yang berisiko tinggi terpapar bahan kimia, seperti formalin atau merkuri, sebaiknya lakukan medical check-up secara rutin, sesuai anjuran perusahaan.

Diagnosis Dermatitis Numularis

Diagnosis dermatitis numularis biasanya dimulai dari wawancara mengenai keluhan dan penyakit yang sedang atau pernah dialami pasien maupun keluarganya, serta pemeriksaan fisik pada area kulit yang bermasalah. 

Pada banyak kasus, dokter sudah dapat menegakkan diagnosis dermatitis numularis berdasarkan pemeriksaan awal tersebut. Namun, karena gejalanya bisa mirip dengan penyakit kulit lain, seperti kurap, dermatitis kontak, atau psoriasis, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Kerok kulit, untuk memastikan tidak ada infeksi jamur pada kulit, dengan cara mengerok permukaan kulit yang terkena dermatitis
  • Tes alergi tempel (patch test), untuk mengetahui kemungkinan alergi terhadap zat tertentu, misalnya nikel
  • Biopsi kulit, untuk memastikan kemungkinan gejala yang timbul akibat penyakit lain, dengan mengambil sampel kecil jaringan kulit 

Pengobatan Dermatitis Numularis

Pengobatan dermatitis numularis bertujuan untuk meredakan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mencegah kekambuhan. Metode pengobatannya meliputi:

Perawatan mandiri

Pasien bisa melakukan perawatan secara mandiri untuk mengurangi gejala dan mempercepat penyembuhan. Caranya adalah dengan:

  • Menghindari pakaian yang bisa memicu alergi, seperti wol atau bahan rajut
  • Menghindari paparan zat yang memicu iritasi, misalnya sabun atau deterjen yang mengandung pewangi
  • Mengenakan sarung tangan saat perlu menggunakan produk pembersih rumah tangga
  • Mengoleskan pelembap kulit atau emolien pada kulit yang kering
  • Tidak mandi atau berendam terlalu lama, terutama dengan air hangat
  • Mengelola stres dengan baik, misalnya dengan meditasi atau yoga

Obat-obatan

Beberapa obat dermatitis numularis hanya bisa didapatkan setelah berkonsultasi dengan dokter. Obat-obat tersebut antara lain:

  • Kortikosteroid topikal, misalnya Elox, Iflacort, atau Mesone, untuk mengurangi peradangan dan iritasi pada kulit
  • Kortikosteroid tablet, seperti Dexa-M atau Scandexon, serta kortikosteroid suntik, untuk mengatasi gejala dermatitis numularis yang tergolong berat
  • Antihistamin cetirizine, misalnya Lerzin atau Zenriz, untuk mengurangi rasa gatal dan tidak nyaman pada kulit
  • Antibiotik erythromycin, seperti Eryra, jika terjadi infeksi bakteri
  • Methotrexate, azathioprine, atau ciclosporin, yang diberikan pada kasus tertentu 

Terapi radiasi ultraviolet (UV)

Jika pemberian obat tidak efektif atau keluhan yang terjadi cukup parah, terapi sinar ultraviolet (UV) bisa menjadi pilihan untuk mengatasi dermatitis numularis. Terapi ini biasanya dilakukan beberapa kali dalam seminggu selama 2–3 bulan, atau sesuai anjuran dokter.

Dermatitis numularis umumnya dapat dikontrol dengan sejumlah penanganan di atas, tetapi masih berpotensi untuk kambuh kembali. Namun, pada sebagian besar penderitanya, bercak pada kulit bisa hilang total tanpa meninggalkan bekas di kulit.

Komplikasi Dermatitis Numularis

Komplikasi yang dapat terjadi akibat dermatitis numularis yang tidak tertangani dengan baik meliputi:

  • Infeksi bakteri pada bercak kulit
  • Perubahan warna kulit permanen di area yang terkena
  • Bekas luka permanen
  • Gangguan tidur atau sulit berkonsentrasi akibat rasa gatal
  • Infeksi jaringan kulit lebih dalam (selulitis)

Pencegahan Dermatitis Numularis

Beberapa cara berikut dapat membantu mencegah kekambuhan atau timbulnya dermatitis numularis:

  • Menjaga kelembapan kulit, misalnya dengan rutin menggunakan pelembap, terutama setelah mandi
  • Memilih produk perawatan kulit atau pembersih berbahan lembut dan tidak berpotensi mengiritasi atau membuat kulit kering
  • Tidak mandi atau berendam di dalam air terlalu lama, apalagi dengan air hangat
  • Menggunakan pakaian longgar berbahan katun yang menyerap keringat
  • Mematuhi standar keselamatan kerja, khususnya jika sering terpapar bahan kimia
  • Mengelola stres dan menjalani pola hidup sehat, seperti makan bergizi dan olahraga teratur