Gigitan semut umumnya tidak berbahaya dan hanya menimbulkan gejala ringan, seperti bentol di kulit, kemerahan, dan gatal ringan. Namun, gigitan semut tertentu dapat menimbulkan gejala yang lebih serius dan bisa terasa lebih nyeri, sehingga diperlukan penanganan yang tepat untuk mengatasinya.
Semut adalah serangga yang hidup berkoloni dan berkomunikasi dengan feromon. Masing-masing koloni semut terdiri dari ratu semut, semut pejantan, semut pekerja yang bertugas mencari makan, dan prajurit semut yang bertugas untuk melindungi sarang dan ratu semut.
Serangga kecil ini biasanya berkerumun ketika terdapat makanan atau remah-remah makanan, khususnya makanan yang manis atau banyak mengandung gula. Ketika diganggu, semut akan menggigit atau menyengat pengganggunya sebagai bentuk pertahanan diri.
Selain menggigit, beberapa jenis semut juga dapat menyengat dan menyuntikkan zat beracun ke dalam kulit pengganggunya. Sengatan ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan gatal yang parah. Pada kasus tertentu, gigitan semut bisa menyebabkan reaksi alergi yang parah.
Gigitan Semut dan Ciri-Ciri yang Muncul
Semut menggigit dengan menggunakan rahang atau penjepit di kepalanya. Setelah itu, semut akan memasukkan asam fomat ke dalam kulit pengganggunya. Zat inilah yang menyebabkan iritasi atau rasa perih. Bahkan, pada beberapa orang, zat pada gigitan serangga ini juga dapat memicu reaksi alergi.
Gigitan semut yang tergolong ringan dan tidak berbahaya biasanya memiliki ciri-ciri berikut:
- Muncul bengkak atau bentol kecil kemerahan di area kulit yang terkena gigitan semut
- Timbul sensasi tersengat atau nyeri ringan yang umumnya tidak bertahan lama
- Timbul rasa gatal sesaat setelah digigit
Gejala-gejala di atas biasanya dapat mereda dengan sendirinya atau dengan perawatan sederhana dalam waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Namun, gigitan semut tertentu, seperti semut api atau semut rangrang, bisa menyebabkan keluhan yang lebih parah.
Beberapa gejala gigitan semut yang tergolong berat meliputi:
- Bentol meluas dan terasa keras saat dipegang
- Nyeri hebat dan berlangsung lama
- Rasa gatal yang tidak tertahankan
- Timbul nanah atau luka melepuh pada luka gigitan
- Timbul gejala alergi berat (syok anafilaktik), seperti sesak napas, pusing, lemas, dan dada berdebar
Walau jarang terjadi, gejala gigitan semut yang parah, seperti syok anafilaktik, bisa berbahaya dan perlu ditangani oleh dokter secepatnya. Kondisi ini biasanya lebih sering terjadi pada orang yang memiliki alergi terhadap semut.
Gigitan Semut dan Cara Mengatasinya
Meski gigitan semut dapat menghilang dengan sendirinya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempercepat penyembuhan. Tergantung pada tingkat keparahan gigitan, berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan:
- Bersihkan area kulit yang terkena gigitan semut dengan air bersih untuk mencegah infeksi.
- Kompres dingin bentol selama 10–15 menit untuk mengurangi pembengkakan, gatal, dan nyeri.
- Oleskan gel lidah buaya untuk meredakan gatal dan iritasi.
- Jangan menggaruk area kulit yang terkena gigitan agar tidak menyebabkan luka dan infeksi lebih lanjut.
- Jika luka gigitan melepuh, jangan dipecahkan agar tidak menyebabkan infeksi.
- Gunakan salep kortikosteroid untuk mengurangi peradangan dan gatal.
- Konsumsi antihistamin, jika timbul gejala alergi ringan atau gatal yang parah.
Selain mengikuti langkah penanganan di atas, Anda juga bisa melakukan langkah pencegahan agar tidak digigit semut, seperti menaburkan cabai, merica, lada, perasan air lemon, cuka, atau minyak kayu putih pada area yang sering dikerubungi semut. Cara ini efektif untuk mengusir semut dan mencegah gigitan semut di kemudian hari.
Meski terkesan sepele, gigitan semut bisa saja membahayakan jika terjadi iritasi lebih lanjut atau bagi orang yang memiliki alergi. Jika gigitan semut menimbulkan gejala alergi berat atau syok anafilaktik, seperti sesak napas, pusing, mual, muntah, jantung berdebar, hingga pingsan, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Umumnya, dokter akan memberikan suntikan epinefrin untuk mengatasi syok anafilaktik. Sementara itu, jika terdapat infeksi lebih lanjut pada area kulit yang terkena gigitan semut, dokter juga dapat meresepkan antibiotik sesuai dengan tingkat keparahannya.