Kram betis terjadi ketika otot betis tiba-tiba menegang dan mengalami kontraksi yang tidak terkendali. Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa menit dan disertai dengan nyeri yang intens. Penyebab betis kram bisa beragam, mulai dari kelelahan otot hingga kondisi medis tertentu.

Setelah kram mereda, otot betis akan terasa pegal dan kaku selama beberapa waktu, sehingga kaki pun terasa lemas dan sulit digerakkan. Meski umumnya tidak berbahaya, kram betis dapat mengganggu aktivitas, sehingga penting untuk diketahui penyebab, penanganan, dan pencegahan agar kram tidak muncul kembali.

Kram Betis, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya - Alodokter

Kram Betis dan Penyebab yang Mendasarinya

Penyebab kram betis sebenarnya belum diketahui secara pasti. Meski begitu, terdapat beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya kram betis, di antaranya:

1. Kelelahan otot

Kelelahan otot merupakan salah satu pemicu utama kram betis. Saat Anda melakukan aktivitas berat atau olahraga intens tanpa pemanasan yang memadai, otot betis akan terbebani dan kewalahan sehingga tidak mampu berkontraksi dengan normal. Kondisi ini dapat memicu kram betis di saat itu juga atau saat tidur di malam hari setelah beraktivitas.

2. Duduk atau berdiri terlalu lama

Otot juga bisa mengalami kram apabila tidak digerakkan dalam beberapa waktu yang lama. Ketika Anda duduk atau berdiri terlalu lama, tindakan ini dapat menghambat suplai oksigen dan nutrisi ke otot betis. Kondisi ini membuat otot betis menjadi lebih tegang dan rentan terhadap kontraksi yang tidak terkendali.

3. Kekurangan elektrolit

Pemicu kram betis yang berikutnya adalah kekurangan elektrolit atau mineral, seperti magnesium, kalsium, dan kalium. Elektrolit berperan penting untuk mengatur kontraksi otot dan fungsi saraf. Apabila kadarnya kurang di dalam tubuh, hal ini dapat mengganggu proses kontraksi dan relaksasi otot, sehingga memicu timbulnya kram betis.

Kekurangan elektrolit di dalam tubuh dapat disebabkan oleh dehidrasi, malnutrisi, diet ekstrem, atau penyakit tertentu, seperti gagal ginjal.

4. Dehidrasi

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dehidrasi dapat menyebabkan kekurangan elektrolit sehingga memicu kram betis. Tidak hanya itu, dehidrasi juga menyebabkan kekurangan nutrisi dan oksigen pada jaringan tubuh, tidak terkecuali pada otot betis. Hal ini membuat otot betis jadi lebih cepat lelah dan tidak dapat berfungsi dengan optimal.

5. Kehamilan

Kram betis merupakan salah satu keluhan yang cukup sering dialami ibu hamil yang sudah memasuki trimester akhir. Meski penyebabnya belum diketahui secara pasti, peningkatan bobot badan dipercaya dapat memberikan tekanan tambahan pada otot betis, sehingga berujung pada timbulnya kram betis.

Selain itu, perubahan sirkulasi darah saat hamil juga dapat menyebabkan otot kaki dan betis menjadi mudah tegang, sehingga memicu kontraksi otot dan kram betis. Ibu hamil juga lebih rentan mengalami kekurangan kalium dan magnesium, yang juga dapat memicu kram betis.

6. Penuaan

Seiring bertambahnya usia, otot-otot betis cenderung mengalami penurunan kekuatan dan elastisitas, sehingga lebih rentan terhadap kontraksi dan ketegangan otot yang tidak terkendali. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kram betis.

7. Gangguan saraf

Gangguan atau penyakit pada saraf juga dapat menyebabkan kram betis. Salah satu contohnya gangguan saraf akibat kekurangan vitamin B12 dan vitamin D. Vitamin ini merupakan jenis vitamin yang berperan penting dalam mendukung kerja dan fungsi saraf serta otot. 

Selain itu, gangguan saraf lainnya, seperti multiple sclerosis dan neuropati diabetik, juga bisa membuat kaki sering mengalami kebas, kesemutan, hingga kram pada kaki dan betis.

8. Penyakit arteri perifer

Kram betis juga dapat dipicu akibat adanya penyakit arteri perifer. Penyakit ini terjadi ketika pembuluh darah di kaki menyempit akibat penumpukan kolesterol, sehingga aliran darah dan oksigen untuk otot terhambat. Akibatnya, otot kaki, termasuk otot betis, menjadi lebih rentan mengalami penegangan atau kontraksi yang tidak terkendali. 

Selain menimbulkan kram, penyakit ini juga ditandai dengan gejala lain yang timbul pada kaki dan area sekitarnya, seperti nyeri, telapak kaki panas, kesemutan, dan mati rasa.

9. Varises

Varises adalah kondisi ketika pembuluh darah di kaki melebar dan berliku-liku akibat tekanan yang tidak normal. Kondisi ini membuat aliran darah di kaki menjadi terganggu, sehingga otot betis tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup. Akibatnya, otot betis menjadi tegang dan lebih mudah mengalami kram.

10. Efek samping obat 

Beberapa jenis obat-obatan, seperti obat diuretik dan statin, diketahui dapat menimbulkan kram betis sebagai salah satu efek sampingnya, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dosis tinggi.

Ini karena kedua obat tersebut dapat berisiko mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh, sehingga mengakibatkan otot mudah kontraksi dan kram.

Selain berbagai hal di atas, kram betis juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Beberapa penyakit diketahui dapat menimbulkan kram betis sebagai salah satu gejalanya, seperti gagal ginjal, anemia, sirosis, gangguan tiroid, saraf kejepit, dan osteoarthritis.

Kram Betis dan Cara Mengatasinya

Kram betis dapat menimbulkan nyeri dan rasa tidak nyaman pada kaki sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui langkah penanganannya yang tepat agar keluhan ini dapat segera teratasi.

Saat kram betis muncul, lakukanlah beberapa langkah berikut:

  • Tekuk pergelangan kaki ke arah Anda untuk meregangkan otot betis.
  • Berikan pijatan lembut pada otot betis yang mengalami kram.
  • Cobalah untuk berdiri dan menekan kaki ke lantai dengan kuat.
  • Kompres betis dengan kompres hangat untuk mengendurkan otot yang tegang dan meningkatkan aliran darah.
  • Konsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol, apabila nyeri akibat kram betis sangat mengganggu.

Selain itu, untuk mencegah kram betis kembali muncul, selalu lakukan pemanasan sebelum berolahraga dan lakukan pendinginan setelahnya. Jangan lupa juga untuk minum air putih 6–8 gelas per hari untuk mencegah dehidrasi, menghindari duduk atau berdiri terlalu lama, serta penuhi kebutuhan mineral, seperti kalsium, magnesium, dan kalium.

Jika setelah membiasakan beberapa langkah di atas, Anda masih sering mengalami kram betis apalagi sampai menimbulkan gejala lain yang mengganggu, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter secara online melalui Chat Bersama Dokter

Dengan demikian, dokter dapat mencari tahu penyebab kram betis melalui sesi tanya jawab dan memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.