Obat suppositoria adalah obat berbentuk seperti peluru atau kerucut yang dimasukkan ke dalam anus (rektal), uretra, atau vagina. Obat ini dapat diberikan oleh dokter dalam kondisi tertentu dan memiliki jenis serta cara penggunaan yang berbeda.

Obat suppositoria biasanya dilapisi oleh gliserin, gelatin, minyak kelapa, atau mentega kakao. Ketika berada di dalam tubuh, obat ini akan meleleh karena suhu tubuh dan kandungannya akan diserap secara perlahan ke dalam aliran darah.

Obat Suppositoria, Ketahui Jenis hingga Cara Pakainya - Alodokter

Pertimbangan Dokter dalam Memberikan Obat Suppositoria

Dokter dapat memberikan obat suppositoria kepada pasien dengan mempertimbangkan beberapa kondisi berikut ini:

  • Pasien tidak dapat mengonsumsi obat secara oral, misalnya anak kecil atau lansia yang tidak dapat menelan obat
  • Pasien mengalami kondisi yang membuatnya tidak memungkinkan minum obat, misalnya karena muntah terus-menerus
  • Pasien tidak sadarkan diri
  • Pemberian obat suppositoria dinilai dapat mengurangi kemungkinan efek samping yang mungkin muncul, contohnya paracetamol yang dimasukkan melalui anus dapat mengurangi efek samping pada lambung dan usus halus 
  • Rasa obat sangat pahit
  • Diperlukan pengobatan yang menargetkan area di mana obat dimasukkan, contohnya obat pencahar untuk mengatasi konstipasi 
  • Obat terlalu cepat terurai di saluran pencernaan jika diminum dalam bentuk pil atau sirup sehingga kerja obat menjadi tidak optimal

 

Jenis Obat Suppositoria

Berdasarkan jalan masuknya, obat suppositoria dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

Suppositoria rektal

Obat suppositoria rektal dimasukkan melalui anus. Obat ini memiliki ukuran sekitar 2,5 cm dengan ujung bulat atau berbentuk seperti peluru agar mudah dimasukkan. 

Obat suppositoria rektal biasanya diresepkan untuk pasien dalam kondisi berikut ini:

 

Suppositoria vagina

Obat suppositoria yang dimasukkan ke dalam vagina dikenal juga sebagai ovula. Obat ini akan diserap secara perlahan melalui dinding vagina. Ovula umumnya berbentuk oval dan digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri dan jamur.

Wanita menopause yang mengalami vagina kering, nyeri, dan kemerahan biasanya mendapatkan terapi hormon estrogen dalam bentuk obat suppositoria untuk mengatasi keluhan tersebut. 

Selain itu, suppositoria vagina juga digunakan sebagai alat kontrasepsi berupa spermisida. Spermisida adalah kontrasepsi yang bekerja dengan cara mematikan sperma sebelum memasuki rahim. 

Spermisida dapat digunakan sendiri maupun sebagai kombinasi dengan alat kontrasepsi lain, seperti seperti kondom atau diafragma, untuk mencegah kehamilan.

Suppositoria uretra

Ini adalah jenis obat suppositoria yang jarang digunakan. Umumnya obat suppositoria uretra diberikan kepada pria yang mengalami disfungsi ereksi. Ukuran obat ini hanya sebesar sebutir beras sehingga mudah untuk dimasukkan ke dalam penis.

Setelah masuk ke dalam tubuh, obat suppositoria akan mulai bekerja dalam waktu 15–60 menit, tergantung pada jenis obatnya. 

Cara Pakai Obat Suppositoria

Agar obat suppositoria dapat bekerja dengan optimal, kamu perlu menggunakannya dengan tepat. Selalu simpan obat di tempat sejuk, bahkan di lemari pendingin, untuk mencegah obat meleleh sebelum digunakan.

Saat menggunakan obat suppositoria, pastikan kukumu rapi dan pendek agar tidak menggores atau melukai tubuh. Sebelum memasukkannya ke dalam tubuh, cucilah tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

Setelah itu, kamu dapat menggunakan obat suppositoria sesuai jenisnya, yaitu:

Rektal

Upayakan untuk buang air besar terlebih dahulu sebelum memasukkan obat suppositoria ke anus. Selanjutnya, ikuti panduan berikut ini:

  • Buka bungkus obat lalu celupkan ke dalam air atau gosokkan pelumas berbahan dasar air pada ujungnya. Ini akan memudahkan obat masuk ke anus.
  • Berdiri dengan satu kaki di atas kursi, atau berbaring miring dengan satu kaki lurus dan kaki lainnya ditekuk ke arah perut.
  • Regangkan anus, kemudian masukkan obat dengan lembut dan dorong secara perlahan. Pada orang dewasa, dorong obat ke dalam sejauh kira-kira 7 cm. Pada anak-anak, dorong obat sejauh 2 cm, sedangkan pada bayi atau balita, dorong obat sejauh 1 cm.
  • Rapatkan kaki dan duduk atau berbaring selama sekitar 15 menit untuk memastikan agar obat benar-benar larut dan tidak keluar.
  • Cuci tangan lagi dengan sabun dan air mengalir setelah selesai.

Vagina

Cara memakai obat suppositoria vagina tidak jauh berbeda dengan untuk rektal, yaitu:

  • Buka bungkus obat suppositoria dan masukkan ke dalam aplikator. Aplikator merupakan alat untuk membantu memasukkan obat ke dalam vagina.
  • Berbaring telentang dengan lutut ditekuk ke arah dada, atau berdiri dengan dengan satu kaki di atas kursi.
  • Dorong aplikator dengan lembut ke dalam vagina sejauh mungkin secara perlahan.
  • Tekan pendorong di ujung aplikator untuk mendorong obat masuk, lalu lepaskan aplikator.
  • Berbaringlah selama beberapa menit untuk memastikan obat tidak keluar dan telah diserap oleh tubuh.
  • Cuci tangan lagi dengan sabun dan air mengalir setelah selesai.

Kamu disarankan memakai pembalut setelah memasukkan obat suppositoria vagina karena sisa obat mungkin akan menempel di celana dalam. 

Uretra

Sebelum menggunakan obat suppositoria uretra, kamu disarankan untuk buang air kecil terlebih dahulu. Selanjutnya, ikutilah langkah-langkah berikut ini:

  • Lepaskan penutup aplikator.
  • Tarik penis untuk membuka uretra dan masukkan aplikator ke dalam lubang penis.
  • Tekan tombol di bagian atas aplikator secara perlahan hingga obat habis, lalu tahan selama 5 detik.
  • Tarik aplikator dan pastikan obat telah masuk seluruhnya.
  • Pijat penis selama setidaknya 10 detik untuk membantu obat terserap dengan optimal.

Obat suppositoria umumnya aman digunakan asalkan sesuai petunjuk. Namun, penggunaan obat ini tetap memiliki efek samping jika pemakaiannya tidak tepat. Beberapa efek samping tersebut adalah obat keluar lagi, obat tidak terserap maksimal, atau terjadi iritasi di area obat dimasukkan.

Oleh karena itu, pastikan kamu mendapatkan informasi yang jelas mengenai cara pemakaian obat suppositoria jika dokter meresepkan obat jenis ini. Jika timbul efek samping atau kamu merasa kesulitan dalam menggunakan obat ini, konsultasikan hal tersebut melalui Chat Bersama Dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.