Sindrom D-MER (dysphoric milk ejection reflex) adalah suatu kondisi saat ibu menyusui merasakan serangkaian emosi negatif secara tiba-tiba, seperti sedih, marah, atau cemas. Kondisi yang muncul ketika sedang menyusui bayi ini bisa dirasakan sebelum atau saat ASI keluar.
Penyebab sindrom D-MER masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat menurunnya kadar hormon dopamin saat tubuh melepaskan hormon prolaktin dan oksitosin untuk memicu keluarnya ASI dari payudara.
Ibu yang mengalami sindrom D-MER umumnya akan merasa lebih baik dalam waktu 3 bulan. Namun, pada beberapa kasus, sindrom D-MER juga bisa terus terjadi selama ibu masih menyusui bayi.
Gejala Sindrom D-MER
Gejala sindrom D-MER biasanya ringan dan akan muncul sebelum atau saat ibu sedang menyusui maupun memompa ASI. Namun, pada beberapa kasus, gejala sindrom D-MER juga bisa muncul beberapa menit setelah ibu selesai menyusui bayi. Berikut ini adalah beberapa gejalanya:
- Merasa sedih, takut, putus asa, dan rendah diri
- Membenci diri sendiri
- Selalu merasa cemas dan panik berlebihan
- Mudah tersinggung dan marah
Meski jarang terjadi, sebagian ibu yang menderita sindrom D-MER juga terkadang memiliki pikiran untuk menyakiti dirinya sendiri bahkan bunuh diri. Gejala-gejala tersebut biasanya hanya berlangsung sebentar, yaitu sekitar 30 detik hingga beberapa menit.
Cara Mengatasi Sindrom D-MER
Hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat mengatasi sindrom D-MER. Meski begitu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola gejala sindrom D-MER. Berikut ini adalah beberapa caranya:
1. Lakukan skin-to-skin saat menyusui
Menyusui secara skin-to-skin artinya membiarkan kulit bayi bersentuhan langsung dengan kulit ibu sewaktu bayi menyusu, tanpa dihalangi oleh pakaian.
Nah, cara ini diketahui dapat memberikan efek menenangkan pada ibu yang mengalami sindrom D-MER karena dapat menurunkan kadar hormon stres (kortisol) di dalam tubuh dan menurunkan detak jantung. Dengan begitu, gejala sindrom D-MER pun mereda.
2. Lakukan latihan pernapasan
Latihan pernapasan diketahui mampu merelaksasikan tubuh dan menenangkan pikiran ibu yang mengalami sindrom D-MER. Dengan begitu, gejala sindrom D-MER pun dapat berkurang.
Nah, salah satu teknik latihan pernapasan yang bisa digunakan adalah box breathing. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk melakukannya:
- Tarik napas secara perlahan melalui hidung selama 4 detik.
- Tahan napas selama 4 detik.
- Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut selama 4 detik.
- Tahan napas selama 4 detik tanpa menghirup napas.
- Ulangi langkah di atas hingga beberapa kali. Cara ini bisa dilakukan baik sebelum, saat, atau setelah menyusui bayi.
3. Alihkan perhatian
Mengalihkan perhatian saat sedang menyusui, misalnya dengan mendengarkan musik juga bisa meredakan gejala sindrom D-MER. Soalnya, mendengarkan musik diketahui mampu menurunkan kadar kortisol dan merangsang pelepasan hormon yang bisa memperbaiki suasana hati, yaitu dopamin dan endorfin.
4. Cari dukungan
Sindrom D-MER juga bisa diatasi dengan mendapatkan dukungan dari support system atau orang-orang terdekat, seperti suami, keluarga, atau teman. Berbagi keluh kesah dan perasaan dengan support system akan meringankan bahkan menghilangkan berbagai emosi negatif yang kerap muncul selama menyusui.
Selain itu, Busui juga bisa mencari dukungan dari sesama ibu yang juga mengalami sindrom D-MER. Dengan adanya teman seperjuangan, Busui pun tidak akan merasa sendirian. Namun, kalau cara ini terasa kurang nyaman atau Busui takut dihakimi oleh orang-orang sekitar, Busui bisa kok berkonsultasi ke psikiater.
Selain itu, jika mengalami pikiran untuk menyakiti diri sendiri, bahkan sampai ada pikiran bunuh diri saat menyusui, segeralah berkonsultasi ke psikiater ya karena Busui memerlukan dukungan dari ahlinya.
Itulah berbagai informasi tentang sindrom D-MER yang perlu diketahui. Perlu diingat bahwa sindrom D-MER merupakan kondisi yang wajar dan banyak dialami oleh ibu menyusui lainnya. Akan tetapi, kondisi ini juga sebaiknya tidak dibiarkan berlarut-larut ya.
Rasa sedih, marah, atau cemas yang hadir saat menyusui bukanlah kesalahan Bunda dan bukan berarti Bunda gagal menjadi seorang ibu. Jadi, jangan pernah menghakimi dan menghukum diri sendiri karena mengalami sindrom D-MER ya, Bun.