Stomatitis adalah luka atau peradangan yang terjadi di area mulut. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak luka berwarna putih di dalam mulut, termasuk bagian dalam pipi, bibir, gusi, lidah, atau langit-langit mulut.
Stomatitis bisa dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini bisa menimbulkan nyeri yang mengganggu, terutama saat penderitanya sedang makan atau berbicara.
Ada dua jenis stomatitis yang umum terjadi, yaitu stomatitis aftosa dan stomatitis herpes. Stomatitis aftosa, atau disebut juga sariawan, umumnya menyebabkan luka di bagian dalam mulut dan tidak menular.
Sementara itu, stomatitis herpes atau herpes oral dapat menyebabkan luka lepuh di area luar bibir dan mulut. Berbeda dengan stomatitis aftosa, stomatitis herpes bisa menular.
Penyebab Stomatitis
Penyebab stomatitis bisa mulai dari cedera, iritasi mulut, sampai infeksi jamur, virus, maupun bakteri. Berikut ini adalah penyebab stomatitis berdasarkan jenisnya:
Stomatitis aftosa
Stomatitis aftosa bisa disebabkan oleh berbagai kondisi di bawah ini:
- Cedera, misalnya karena tergigit, tergores kawat gigi maupun gigi yang patah, atau mulut terbakar karena makanan dan minuman panas
- Reaksi alergi atau iritasi mulut, misalnya akibat penggunaan kosmetik atau produk perawatan gigi, seperti obat kumur
- Infeksi jamur, bakteri, atau virus di mulut atau bagian tubuh lain
- Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya penghambat beta, imunosupresan, atau OAINS
- Pengobatan kanker, seperti kemoterapi atau terapi radiasi
- Kekurangan nutrisi, misalnya karena kurangnya asupan zat besi, vitamin B12 dan C, atau zinc
- Penyakit tertentu, seperti penyakit Behcet, HIV/AIDS, Crohn's disease, atau lupus
Stomatitis herpes
Stomatitis herpes atau herpes oral disebabkan oleh infeksi virus herpes herpes simplex 1 (HSV-1). Namun, pada beberapa kasus, virus herpes herpes simplex 2 (HSV-2) juga bisa menyebabkan herpes oral.
Faktor Risiko Stomatitis
Stomatitis dapat terjadi pada siapa saja dari berbagai kelompok usia. Namun, risiko terjadinya stomatitis lebih tinggi pada orang dengan beberapa faktor berikut:
- Tidak membersihkan gigi secara teratur
- Mulut kering karena kurangnya air liur
- Usia 1–19 tahun atau lebih dari 65 tahun
- Konsumsi minuman beralkohol
- Kebiasaan merokok
- Pola makan yang tinggi gula dan karbohidrat
- Penggunaan gigi palsu dalam jangka lama
- Daya tahan tubuh lemah
Gejala Stomatitis
Gejala dan tingkat keparahan stomatitis dapat berbeda-beda pada setiap orang. Berikut ini adalah beberapa gejala umum stomatitis:
- Kemerahan atau pembengkakan di dalam mulut
- Luka di dalam mulut yang biasanya berwarna putih, abu-abu, atau kuning, dengan bagian tepi berwarna merah
- Lepuh di area mulut
- Nyeri atau rasa tidak nyaman pada bagian mulut yang luka
- Bercak putih atau abu-abu di lidah, langit-langit mulut, atau bagian dalam pipi
- Sensasi terbakar di lidah atau langit-langit mulut
Stomatitis aftosa umumnya berlangsung selama 5–10 hari dan cenderung kambuh. Sementara itu, stomatitis herpes terkadang disertai gejala pilek atau flu dan biasanya hilang dalam 7 hingga 10 hari.
Kapan harus ke dokter
Periksakan diri Anda ke dokter jika gejala stomatitis belum juga membaik setelah 1 atau 2 minggu. Anda juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan jika muncul keluhan, seperti:
- Kesulitan makan dan minum
- Demam
- Ruam atau lepuhan pada kulit
- Mata kemerahan, nyeri, atau bengkak
- Penglihatan kabur
Bila ragu, Anda bisa berkonsultasi terlebih dahulu lewat Chat Bersama Dokter agar mendapatkan jawaban yang tepat dan cepat.
Diagnosis Stomatitis
Untuk mendiagnosis stomatitis, dokter akan menanyakan beberapa hal berikut kepada pasien:
- Gejala yang dialami
- Penyakit yang pernah atau sedang dialami
- Obat-obatan yang sedang dikonsumsi
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik diikuti pemeriksaan tambahan di bawah ini untuk memastikan penyebab stomatitis:
- Tes swab, untuk memeriksa virus atau bakteri yang mungkin menjadi penyebab peradangan pada mulut
- Tes darah, untuk mengecek apakah ada riwayat penyakit tertentu yang bisa memicu stomatitis
- Tes alergi, untuk memeriksa apakah stomatitis disebabkan oleh alergi tertentu
- Biopsi, untuk memeriksa kemungkinan kerusakan sel yang bisa menjadi tanda dari kondisi yang lebih serius
Pengobatan Stomatitis
Pengobatan stomatitis akan ditentukan berdasarkan penyebabnya. Jika penyebab stomatitis kemungkinan karena alergi, dokter akan mencari tahu pemicunya terlebih dahulu agar penanganannya lebih tepat.
Stomatitis ringan biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 1–2 minggu. Untuk membantu pemulihan, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu:
- Berkumur dengan air garam
- Menghindari minuman dan makanan panas, serta makanan asin, pedas, dan asam
- Banyak minum air putih
- Menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi setidaknya 2 kali sehari
Pada beberapa kasus stomatitis, dokter mungkin juga akan meresepkan beberapa obat tertentu. Berikut ini adalah obat-obatan yang dapat diberikan oleh dokter:
- Obat pereda nyeri, contohnya Tantum Lozenges atau Bufect
- Obat kumur antiseptik, seperti Betadine Mouthwash atau Minosep
- Obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan, misalnya Triamcort, Sinocort, atau Kenalog In Orabase
- Obat antimikroba (antibiotik, antijamur, atau antivirus) untuk mengatasi stomatitis yang disebabkan oleh infeksi, antara lain Molavir, Molazol, atau Fungares
- Suplemen dan vitamin, seperti Pyfahealth Vitamin B Complex + Vitamin C atau Vitacimin
Komplikasi Stomatitis
Jika tidak ditangani, stomatitis dapat menyebabkan sejumlah komplikasi berikut:
- Sulit berbicara, makan, minum, serta menyikat gigi
- Dehidrasi
- Malnutrisi
- Demam
- Peradangan dan luka yang makin parah
Pencegahan Stomatitis
Tidak semua jenis stomatitis bisa dicegah. Namun, Anda dapat menurunkan risiko terjadinya stomatitis dengan menghindari penyebabnya. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:
- Menjaga kebersihan gigi dan mulut, misalnya dengan menyikat gigi 2 kali sehari dan membersihkan sela-sela gigi dengan dental floss setiap hari
- Tidak merokok
- Membatasi konsumsi makanan yang terlalu panas, asam, atau pedas
- Mengonsumsi suplemen dan makanan yang mengandung vitamin B, seperti brokoli atau bayam
- Tidak berbagi makanan, minuman, atau lip balm
- Menghindari kontak intim dengan orang yang menderita herpes