Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan tulang berkurang sehingga tulang menjadi keropos dan mudah patah. Kondisi ini sering tidak menimbulkan gejala sehingga biasanya baru terdiagnosis ketika penderitanya mengalami jatuh atau cedera yang menyebabkan patah tulang.
Osteoporosis dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Namun, risiko kondisi ini meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause.

Hal ini berkaitan dengan penurunan kadar hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan dan kekuatan tulang.
Penyebab Osteoporosis
Osteoporosis berkaitan dengan proses pembaruan jaringan tulang, yaitu penggantian sel tulang lama dengan sel tulang baru. Proses ini berperan penting dalam menjaga kepadatan dan kekuatan tulang.
Pada usia muda, pembentukan tulang masih berlangsung dengan baik sehingga kepadatan tulang dapat terbentuk secara optimal. Namun, seiring bertambahnya usia, proses pembaruan tulang akan melambat.
Osteoporosis dapat terjadi apabila kepadatan tulang tidak terbentuk secara optimal sejak usia muda atau tidak dapat dipertahankan dengan baik seiring waktu.
Faktor Risiko Osteoporosis
Osteoporosis dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang meningkatkan risiko berkurangnya kepadatan tulang. Faktor risiko ini terbagi menjadi faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang dapat dicegah atau ditangani
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis dan tidak dapat dicegah atau dikendalikan:
- Mengalami pertambahan usia
- Berjenis kelamin wanita, terutama setelah memasuki masa menopause
- Memiliki riwayat osteoporosis dalam keluarga
Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi
Selain itu, terdapat faktor risiko osteoporosis yang dapat dicegah atau ditangani, antara lain:
- Mengalami penurunan kadar hormon estrogen pada wanita atau testosteron pada pria
- Menderita gangguan hormonal, seperti sindrom Cushing, hiperparatiroidisme, atau gangguan kelenjar pituitari
- Mengalami gangguan makan, seperti anoreksia nervosa
- Mengalami kekurangan asupan vitamin D dan kalsium
- Menderita gangguan pencernaan yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi, seperti malabsorpsi atau penyakit Crohn
- Menggunakan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti kortikosteroid
- Menjalani gaya hidup kurang aktif atau jarang berolahraga
- Memiliki kebiasaan merokok
- Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
- Menderita penyakit tertentu, seperti cystic fibrosis, hemofilia, hemokromatosis, leukemia, atau penyakit Parkinson
Gejala Osteoporosis
Osteoporosis berkembang secara bertahap dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Kondisi ini biasanya baru diketahui ketika penderitanya mengalami tulang retak atau patah akibat cedera ringan.
Ketika terjadi patah tulang, penderita dapat mengalami nyeri, bengkak, dan memar di area tulang yang terdampak. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami keterbatasan atau ketidakmampuan menggerakkan bagian tubuh tersebut.
Selain itu, gejala lain yang dapat muncul meliputi:
- Postur tubuh membungkuk
- Penurunan tinggi badan
- Nyeri punggung akibat patah tulang belakang
Kapan Harus ke Dokter
Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami keluhan seperti yang disebutkan di atas. Apabila terjadi tulang retak atau patah, penanganan medis perlu dilakukan untuk meredakan gejala dan mencegah terjadinya komplikasi.
Selain itu, jika Anda memiliki faktor risiko osteoporosis, seperti usia lanjut, telah memasuki masa menopause, atau mengalami gangguan hormonal, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Langkah ini penting untuk mendeteksi osteoporosis sejak dini dan mencegah terjadinya patah tulang.
Oleh karena itu, bila Anda mengalami keluhan ringan yang mengarah pada gangguan osteoporosis, jangan tunda untuk segera berkonsultasi ke dokter melalui Chat Bersama Dokter atau melakukan janji temu dengan dokter melalui fitur booking di aplikasi ALODOKTER.
Diagnosis Osteoporosis
Dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan yang dialami pasien, riwayat kesehatan, obat-obatan yang digunakan, serta riwayat penyakit pada pasien dan keluarganya. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada bagian tubuh yang mengalami nyeri atau cedera.
Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berupa:
- Rontgen, CT scan, atau MRI, untuk melihat lebih jelas kondisi tulang yang patah
- Tes darah, untuk mengetahui kadar sel-sel darah, kadar elektrolit, dan kadar hormon, termasuk hormon tiroid, paratiroid, esterogen, dan testosteron
- Tes bone mineral density (BMD), untuk melihat tingkat kepadatan tulang dan menentukan risiko terjadinya patah tulang
Pemeriksaan BMD umumnya dilakukan dengan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA) atau quantitative computed tomography (QCT). Dari kedua metode tersebut, pemeriksaan DXA lebih sering digunakan karena akurat dan paparan radiasinya lebih rendah.
Hasil pemeriksaan DXA dinyatakan dalam nilai T-score, dengan interpretasi sebagai berikut:
- Lebih dari -1: Kepadatan tulang normal
- -1 hingga -2,5: Kepadatan tulang rendah (osteopenia)
- Kurang dari -2,5: Osteoporosis
Pengobatan Osteoporosis
Pengobatan osteoporosis bertujuan untuk mencegah terjadinya patah tulang serta mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang. Penanganan dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan kondisi dan risiko patah tulang yang dimiliki pasien.
Umumnya, dokter akan pengobatan dalam bentuk terapi obat, baik nonhormonal maupun hormonal.
Pengobatan Osteoporosis Nonhormonal
Pengobatan nonhormonal bertujuan untuk menjaga kepadatan tulang dan menurunkan risiko patah tulang tanpa menggunakan hormon. Berikut beberapa pengobatan osteoporosis nonhormonal yang umum diberikan:
- Suplemen kalsium dan vitamin D
- Bifosfonat, seperti alendronate, ibandronate, risedronate, atau asam zoledronat
- Denosumab, yang diberikan melalui suntikan setiap 6 bulan pada pasien berisiko tinggi patah tulang
Pengobatan Osteoporosis Hormonal
Selain pengobatan nonhormonal, ada beberapa pengobatan hormonal yang dilakukan untuk membantu mempertahankan kepadatan tulang pada kondisi tertentu, di antaranya:
- Terapi hormon estrogen pada wanita pascamenopause, dengan pertimbangan risiko dan manfaat
- Selective estrogen receptor modulators (SERMs), seperti raloxifene
- Terapi hormon testosteron pada pria dengan hipogonadisme
- Obat perangsang pembentukan tulang
- Kalsitonin
Komplikasi Osteoporosis
Osteoporosis dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius bila tidak ditangani dengan baik. Penurunan kepadatan tulang membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah, bahkan akibat benturan ringan atau aktivitas sehari-hari.
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah patah tulang, terutama pada tulang belakang, pinggul, dan pergelangan tangan. Patah tulang ini dapat menyebabkan nyeri kronis, perubahan postur tubuh seperti membungkuk, penurunan tinggi badan, serta keterbatasan gerak.
Pada kasus tertentu, terutama pada lansia, patah tulang pinggul dapat meningkatkan risiko komplikasi lanjutan, seperti infeksi, pembekuan darah, hingga kematian. Oleh karena itu, deteksi dini dan pengobatan osteoporosis sangat penting untuk mencegah komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup.
Pencegahan Osteoporosis
Osteoporosis dapat menimbulkan komplikasi berupa patah tulang, terutama pada tulang belakang dan tulang pinggul. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, keterbatasan gerak, postur tubuh membungkuk, serta penurunan tinggi badan.
Untuk mencegah osteoporosis dan mengurangi risiko komplikasi, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
- Berolahraga secara rutin, termasuk latihan beban untuk menjaga kekuatan tulang
- Mengonsumsi makanan tinggi kalsium dan vitamin D, serta suplemen bila diperlukan
- Berhenti merokok dan menghindari konsumsi alkohol
- Menghindari penggunaan obat tertentu tanpa anjuran dokter, terutama kortikosteroid
- Membatasi konsumsi kafein secara berlebihan
- Mengonsumsi susu orang tua bagi lansia untuk membantu mencegah pengeroposan tulang.
Khusus pada wanita pascamenopause dan lansia, pencegahan perlu didukung dengan kontrol rutin ke dokter serta aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki, berenang, atau yoga, untuk menjaga kekuatan otot dan keseimbangan tubuh.